Bagaimana menemukan kebenrana jika kita berbeda pandangan?
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang yang sudah 7 tahun terakhir “diet” dari gula, tepung, nasi, dan berbagai produk turunan makanan olahan.
Beliau memberikan perspektif kepada saya tentang pola makan yang benar, yang itu sebenarnya cocok bagi saya sebagai penderita diabetes dengan tingkat HBA1C yang nilainya sudah 2 digit.
Tentu saya akan berargumentasi dengan pola yang sudah saya lakukan. Dengan apa yang saya dapatkan dari berbagai dokter yang memberikan beberapa pandangan dan pilihan.
Dan ternyata selama ini yang saya cari bukan benar2 kebenaran, tetapi solusi yang cocok dengan “ego” dan zona nyaman saya. Maka kemudian saya berusaha memberikan “bantahan” atas perbedaan pandangan ini.
Belakangan saya belajar bahwa ternyata yang menjadi halangan untuk menemukan kebenaran itu adalah ego kita sendiri. Ada konsep menarik yang saya pelajari tentang Steelman VS Strawman ketika kita berhadapan dengan pandangan orang lain yang berbeda.
Sebenarnya nasehat dari beliau sudah saya pelajari dari buku “The Diabetes Code” karya DR Jason Fung, beliau adalah tokoh yang mengkampayekan intermittent fasting.
Ketika membaca konsep itu, otak di kepala saya memakai mode “Strawman”. Jadi justru yang saya lihat bukan kebenarannya, tetapi sisi lemah dari argumen tersebut. Dan disinilah salah saya, disinilah saya menuruti ego saya.
Saya katakan, “Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu yang halal dan toyyib itu untuk kita semua? kan yang penting kita atur saja porsinya”
Realitasnya saya akhirnya ga jaga porsi juga. Jadi saya pakai dalil untuk melawan sisi lemah dari argumentasi tersebut.
Padahal kalau mau objektif, nasi itukan halal dan toyyib buat anda yang gula darahnya normal, tetapi nasi tidak toyyib untuk saya yang menderita diabetes tinggi seperti yang saya alami.
Bersyukur ketika bertemu dengan teman tadi, saya sudah mulai memasang mode “Steelman”. Artinya Saya melihat sisi paling kuat dari argumentasi orang lain, walaupun mungkin kita punya pandangan yang berbeda.
Jadi sebenarnya simple, tetapi kita ga mau mengakui. Ibarat air kran yang berisi gula masuk ke ember, maka cara membersihkan ember adalah dengan cara menutup krannya, lalu menguras gulanya.
Metafora yang sebenarnya sederhana. Tetapi ego masih berusaha mencari alternatif lain untuk menuruti keinginan dan kehendaknya.
Teman saya bilang, “Mas Aris, kan yang bikin makanan enak itu lauk, ya sudah double-in saja lauknya, kita skip nasinya. Kan tetap enak jadinya?”
“Lagian ya kita juga pernah makan itu…masih banyak makanan lain yang enak dan sehat. kalaupun diawal2 terasa tersiksa, itu cuma terjadi dipikiran saja. justru ketika diabetes naik organ tubuh kita seperti otak, ginjal, jantung, mata, dan organ2 lain bakal tersiksa beneran”.
Ya kadang gitu, kita tahu tetapi kita ga mau sadar. Kalau dalam konsep consciusness namanya kesadaran “Aspiration”. Masih jadi inspirasi di kepala, tetapi masih berat melaksanakannya.
Kembali ke konsep pembahasan kita tentang “Steelman vs Strawman”. Gunakan mode Steelman, untuk menemukan kebenaran. Lihat sisi terkuat dari argumentasi orang lain untuk mendapatkan pemahaman.
Metode ini bukan berarti menuruti dan selalu menganggap benar pemikiran orang lain. Namun untuk memfilter otak kita agar kita lebih objektif merespon perbedaan.