Tentang Produk Gift Cerita Tulisan Daftar Batch 10
← tulisan
Refleksi 12 Juli 2026 · Ubay Muhammad

Ayah yang Hadir, Bukan Sekadar Ada

Dalam salah satu bukunya, Robin Sharma menjelaskan salah satu “kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang”, adalah Keluarga. Dia disebutkan tepat setelah kesehatan. Artinya sesuatu yang amat penting. Bukan keluarga sebagai status. Bukan foto liburan yang rapi di feed. Tapi keluarga sebagai tempat, tempat anak merasakan bahwa dunia ini aman, tempat suami istri pulang. Karena rumah sejatinya adalah tempat ternyaman untuk pulang. Kita begitu sibuk membangun masa depan anak, sampai lupa hadir di masa kecil mereka.

Saat ini saya punya dua anak perempuan. Keduanya punya karakter yang unik dan cukup berbeda. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Salah satu tantangan kami sebagai orang tua adalah kurangnya rasa percaya diri pada mereka. Saya lama mengira itu soal karakter saja. Soal bawaan. Soal “memang anaknya begitu.” Sampai akhirnya saya menyadari, semua bisa jadi karena sikap saya, dan kesalahan saya dalam membersamai masa kecil mereka. Ada satu momen yang tidak bisa saya hapus. Saat itu bisnis sedang di titik yang menekan. Pikiran penuh, tanpa kesadaran yang utuh. Dan anak saya yang waktu itu masih kecil sedang tidak mau diatur. Saya kehilangan kendali. Saya kunci dia di kamar mandi. Sebentar. Tapi cukup untuk membekas. Dan sampai hari ini, saya masih menyimpan pertanyaan yang sama setiap kali mengingatnya: Kok bisa. Setega itu. Dan saya yakin itu menjadi luka bagi dia. (Astaghfirullah..)

Sahabat saya pernah bilang, bisnis bisa memakan tumbal, kalau kita tidak berbisnis dengan kesadaran. Saya kira tumbalnya adalah waktu. Tenaga. Mungkin uang. Ternyata ada yang lebih mahal dari itu. Tumbalnya adalah momen-momen kecil yang tidak bisa dikembalikan. Saat anak mengulurkan tangan, dan tangan kita sedang menggenggam hal lain. Saat mereka butuh rasa aman, dan yang mereka dapat justru sebaliknya.

Di momen menjelang libur sekolah ini, ini bukan jeda. Ini ujian. Ujian apakah kita mampu menjadi tempat yang nyaman. Mampu memberikan contoh nilai-nilai kebaikan. Mampu menjadi madrasah utama bagi mereka. Banyak di antara kita, termasuk saya sendiri, pernah menganggap pendidikan anak adalah kewajiban sekolah. Ternyata itu keliru besar. Sekolah adalah pelengkap, pendukung. Kitalah yang paling bertanggung jawab. Karena sekolah bisa mengajari banyak hal. Tapi karakter tidak tumbuh dari kurikulum. Softskill tidak lahir dari rapor. Yang paling membekas pada anak adalah cara kita hadir, atau tidak hadir. Semuanya tumbuh dari rumah. Dari percakapan ringan saat makan. Dari cara kita merespons saat anak melakukan kesalahan. Dari saat kita memberi mereka tanggung jawab kecil di rumah. Dari apakah anak merasakan, “Bapak ada. Dan aku aman.” Kitalah madrasah pertama mereka.

Tentu bukan berarti kita harus ikut libur dari pekerjaan. Tapi setidaknya kita hadir dalam perencanaan. Kita yang menyusun bagaimana hari-hari mereka diisi. Bukan diserahkan begitu saja pada layar. Libur sekolah bukan berarti bebas main gadget seharian. Justru ini momen kita menciptakan keseruan lain, project kecil di rumah, memasak bersama, berkebun, atau sekadar jalan pagi tanpa tujuan yang jelas. Anak-anak tidak butuh agenda yang padat. Mereka butuh kita yang ada dalam agenda itu. Dan kalau ada waktu lebih, ambil. Bermainlah lebih banyak. Karena bermain bukan pengisi waktu. Bermain adalah belajar. Bermain adalah pembentukan.

Saya tidak menulis ini sebagai orang yang sudah selesai. Saya masih sering temperamental. Masih belajar. Masih sering gagal lebih dulu sebelum sadar. Tapi saya percaya, kesadaran yang jujur lebih berguna dari penyesalan yang diam. Mengakui luka yang pernah kita buat adalah langkah pertama untuk tidak mengulanginya. Dan mungkin pelan-pelan, itu juga bagian dari cara kita memulihkan kepercayaan diri anak yang dulu pernah kita lukai tanpa kita sadari sepenuhnya.

Penutup.. Anak kita tidak peduli siapa kita di luar sana. Jabatan apa yang kita pegang. Berapa omzet bulan ini. Seberapa banyak orang mengenal nama kita. Mereka hanya ingin satu hal, Ketika kita pulang ke rumah, kita menjadi seorang Bapak.

(tulisan dari pak Ubay Muhammad)